Kue Onde dan Berbagi Cerita Pengalaman Menggunakan Dating Apps

Salam!

Halo! Beberapa hari yang lalu ada salah satu akun IG yang ku-follow karena resep-resep masakannya lewat di feed, isinya lain dari biasanya! Isinya pertanyaan tentang gimana dulu bisa yakin untuk menikah dengan pasangan kita sekarang? Wah menarik! Aku jadi pengin cerita soal cinta-cintaan! Ga apa-apa ya aku melenceng dulu sebelum bahas resep! Hihi.

Aku dan suami itu kenal di sebuah website cari jodoh atau dating app! Jadiii ceritanya, aku tahun 2013 itu lagi kuliah S2 di Jerman, umur sudah 24 tahun tapi belum punya pacar yang serius! Kalau yang menyatakan ada beberapa, tapi belum ada yang sreg. Pokoknya belum ada yang berjalan hubungannya sama aku. Ya sudah aku ditawari orang tua-ku untuk buka akun di website cari jodoh, dibayarin supaya dapat akses semua fitur-nya. Murah, website cari jodoh lokal kalau gak salah 200 ribu-an bayarnya tahun 2013 itu. Itu akun yang akses rame-rame, orang tua tahu username dan password-nya, jadi kadang-kadang mereka yang balas-balas message di inbox ke calon-calon yang kelihatannya berpotensi! Tapi tanpa bilang-bilang ya, ya seolah-olah aku yang balas message padahal kadang orang tuaku. Hahaha. Rencananya waktu itu kita saring mana yang kelihatannya baik-baik dan aku rasa cocok ngobrolnya terus nanti aku minta mereka ketemu papa di Jakarta. Kalau papa ok, baru proceed to the next level. Gitu! Dari beberapa yang nyambung ada karyawan perusahaan oil & gas, aktivis, PNS, apa lagi ya lupa! Hehehe. Nah aku dan orang tua suka nih sama karyawan perusahaan O & G, mungkin karena papa-ku juga kerja di O & G jadi cukup nyambung juga. Kelihatannya baik-baik. Oke, aku rutin chat di whatsapp sama dia selama beberapa minggu, tapi belum bisa atur ketemuan sama papa soalnya dia ditempatkan kerjanya di Kalimantan. Kegiatan hunting calon suami di website cari jodoh itu juga mulai slowing down karena kan merasa ada prospek nih sama yang satu itu. Terus one day, dia tugas lapangan yang mana ga ada sinyal selama berhari-hari. Bosen aku, iseng buka-buka inbox di web cari jodoh itu. Selembar dua lembar ga ada yang menarik, ketemu satu message dari seorang konsultan IT. Isi message-nya? B aja, profile? OK bisa diterima, penampilan? B juga, foto-fotonya cukup pantas ga alay yang aneh-aneh. Aku balas aja message-nya, seingatku message minta akun line dan facebook deh kalau ga salah. Lanjut di line, facebook, dan path ya standar saling tanya background dan ngobrol ngalor ngidul sambil kepoin socmed-nya. Aku merasa cukup nyaman ngobrol sama dia, ada sekitar dua mingguan gitu ngobrol santai tanpa bahas langkah konkret selanjutnya bagaimana. Terus papa tanya progres lagi ngobrol sama siapa aja nih, ya aku cerita ada satu lagi (selain pegawai O &G) yang rutin chat. Papa bilang, ya sudah sini suruh ketemu papa! Sambil bercanda aku tanya lah si konsultan IT ini: “Mas berani ga ketemu papa-ku?” Dan apa balasannyaaa diaaa?: “Berani! Siapa takut?” Hahahahaha. Ok bersambung di post berikutnya ya cerita cintaku ini! Kepanjangan.

Anyway, ingat kasus mutilasi yang dilakukan teman kencan yang dikenal dari Tinder yang heboh sekitar bulan September 2020? Ternyata aplikasi kencan banyak digunakan untuk cari one night stand-an atau friend with benefit ya? Aduh ngeri! Aku ga habis pikir orang bisa seberani itu! Atau aku yang ga gaul ya? Hehehe then I dont regret being a nerd! Mungkin banyak yang skeptis dengan kualitas orang-orang di aplikasi kencan, tapi dari pengalaman aku, itu bisa jadi salah satu alat untuk mencari pasangan hidup dengan memperluas jangkauan pencarian! Haha! Dengan catatan, berhati-hati dan libatkan orang tua atau siapapun deh yang kita percaya. Jangan jalan sendiri! Actually, there is quite a lot of decent people on dating apps, banyak kok orang baik-baik disana. Dari foto-foto yang diunggah dan cara seseorang membalas komen di profile-nya, bisa dinilai sekilas seperti apa orangnya! Sekilas lho ya, bisa saja salah, tapi cukup untuk dijadikan saringan untuk kita memutuskan mau lanjut atau ga-nya. Kalaupun merasa nyaman dan memutuskan untuk kopdar, jangan sendirian dan ditempat yang sepi apalagi langsung check-in! Jangan! Selain dosa, ya bahaya! Nanti kena hipnotis atau ternyata orangnya manipulatif atau entah-entah ada sekongkolan-nya yang menunggu beraksi untuk menjahati kita, bagaimana? Kan repot! Bisa bisa kejadian minimal kehilangan harta, lebih parah dicabuli, atau paling parah kehilangan nyawa! Kisah mutilasi yang aku sebut diatas sangat tragis sekali karena menurut pengakuan pelakunya mereka sedang berhubungan badan ketika si korban dipukul batu bata kemudian ditusuk berkali-kali sampai meregang nyawa. Meninggal dalam keadaan ber-zina bukan sebuah pengakhiran kehidupan yang baik. Apapun, semoga korban diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya. Cukup ini jadi pelajaran untuk kita.

Ookee! Kembali ke? Resep! Aku mau share resep Kue Onde. Ga pernah terbayangkan aku akan membuat kue onde sendiri! Biasanya ya beli! Ternyata ga susah lho! Bikin sendiri jauh lebih puas, dapat banyak, bisa makan kue onde hari ini, besok, besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagiii! Hahaha sampai eneg! Satu resep dapat banyaaak bo! Kue onde ini bahan kulitnya bisa dengan campuran kentang kukus atau tepung tapioka, kalau pakai kentang kukus kenyalnya lebih ringan kalau pakai tepung tapioka jadinya berat gitu dan liat ketika sudah dingin. Ayo-ayo belajar buat kue onde! 🙂


Kue Onde

Kue Onde

Ingredients

Bahan kulit

  • 250 gr Tepung Ketan
  • 125 gr Kentang, kukus dan haluskan dalam keadaan masih hangat, kalau dihaluskan dalam keadaan sudah dingin akan menjadi sangat lengket
  • 2 sdm Tepung Beras 
  • 4 sdm Gula Halus 
  • 1/2 sdt Garam 
  • 175 ml Air Hangat
  • Secukupnya Wijen
  • 250 gr Kacang Hijau Kupaa, rendam selama 2 jam
  • 250 ml Santan, aku 150 ml santan instant dicampur air 100 ml
  • 120 gr Gula Pasir 
  • 1/4 sdt Vanili Bubuk
  • 3 lembar Daun Pandan, ikat simpul
  • Secubit Garam

Instructions

    1. Kukus kacang hijau tanpa kulit selama 40 menit. Masukkan ke dalam food processor bersama santan, lalu haluskan.
    2. Masukkan semua bahan isian ke dalam panci, masak sampai kental sekali. Aduk sesekali agar tidak gosong bawahnya. Adonan tidak akan bisa dibentuk ketika baru matang, jangan khawatir karena begitu dingin adonan akan mengeras.
    3. Bulatkan adonan, timbang masing-masing sekitar 20 gr. Sisihkan.
    4. Buat adonan kulit. Campur semua bahan dalam baskom, aduk rata sampai bisa dibentuk. Bulatkan adonan, timbang masing-masing sekitar 32 gr. Jika memungkinkan, segera dibentuk, isi bahan isian dan goreng, jangan biarkan adonan kulit terlalu lama karena nanti akan mengeras dan terbentuk gumpalan kasar.
    5. Ratakan adonan kulit, beri bahan isian kemudian bulatkan. Siapkan mangkuk berisi air bersih, celupkan kue ke dalam air sebelum dibaluri dengan wijen.
    6. Panaskan minyak, gunakan api kecil. Goreng sampai matang berwarna coklat keemasan.

No Comments

Post A Comment